Site icon Cakra News

Peristiwa di Tambang Gunung Tembaga SBB Nyaris Picu Konflik, Lattukaisupy Ambil Langkah Mediasi

Piru, CakraNEWS.ID– Peristiwa pembakaran sejumlah sepeda motor di lokasi tambang sinabar Gunung Tembaga, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, nyaris memicu konflik antarwarga. Insiden tersebut terjadi menyusul kasus penganiayaan terhadap seorang penambang yang bekerja di wilayah Negeri Iha.

Korban penganiayaan diketahui bernama La Ode Jamilu (43), warga Kota Ambon. Ia diduga dianiaya oleh sejumlah pemuda yang disinyalir mencuri hasil tambang milik warga Negeri Iha, tempat korban bekerja.

Akibat penganiayaan menggunakan benda keras tersebut, korban harus menjalani perawatan medis di Puskesmas Negeri Iha.

Anggota DPRD Provinsi Maluku dari Fraksi Partai Gerindra, Zein Syaiful Lattukaisupy, Minggu (08/02) membenarkan peristiwa tersebut saat ditemui di kediamannya di Negeri Iha.

Ia mengatakan, situasi sempat memanas ketika korban dilarikan ke puskesmas karena warga menuntut agar pelaku penganiayaan segera ditangkap.

Menurut Lattukaisupy, warga telah memberikan waktu kepada pihak Polsek Huamual selama 2×24 jam untuk mengungkap dan menangkap pelaku.

Namun hingga tiga hari berlalu, belum ada kepastian hukum, sehingga memicu kekecewaan warga dan berujung pada aksi pembakaran sejumlah kendaraan bermotor di lokasi tambang.

“Saya sangat kecewa dengan penanganan pihak Polsek Huamual. Warga sudah memberi waktu, tetapi tidak ada perkembangan yang jelas. Akibatnya warga meluapkan emosi dengan membakar kendaraan sebagai bentuk protes,” ujar Lattukaisupy.

Ia menjelaskan, kendaraan yang dibakar merupakan milik sejumlah penambang asal Desa Luhu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dan semua pihak yang terlibat dalam tindak pidana harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Lattukaisupy mengaku telah berkoordinasi dengan penanggung jawab tambang guna meredam ketegangan serta mencegah konflik yang lebih luas.

Ia menegaskan bahwa baik pelaku penganiayaan maupun pihak yang terlibat dalam pembakaran kendaraan harus segera menyerahkan diri kepada aparat kepolisian.

“Keamanan dan kenyamanan masyarakat harus dijamin. Harus ada langkah bijak dan jalan tengah agar kejadian ini tidak merugikan banyak orang,” sosok yang diketahui merupakan Raja Negeri berteong Ama Iha Ulupia itu.

Sebagai bentuk mediasi dan upaya rekonsiliasi, Lattukaisupy juga menginisiasi langkah partisipatif dengan melibatkan warga Negeri Iha dan Desa Luhu yang berada di wilayah pertambangan untuk bersama-sama membantu menggantikan kendaraan bermotor yang terbakar.

“Langkah ini saya ambil agar tidak timbul dendam dan niat untuk melakukan tindakan lanjutan yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat Negeri Iha untuk sementara waktu menggunakan jalur laut dalam beraktivitas guna menghindari potensi gesekan pascainsiden.

Dikatakan, pihaknya juga telah menyampaikan kepada Kepala Desa Luhu agar warga Desa Luhu tetap dapat melintas melalui jalur darat dengan aman dan tanpa rasa khawatir.

Lattukaisupy menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang melakukan kekerasan lanjutan di wilayah pertambangan, baik terhadap warga Desa Luhu maupun pihak lainnya.

“Saya tegaskan kepada warga Negeri Iha, baik di Dusun Uhe maupun Dusun Hulung, untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun. Jika itu terjadi, saya akan mengeluarkan pelaku dari lokasi tambang dan wilayah Negeri Iha,” pungkasnya.***

Exit mobile version