Disrupsi Sosio-Ekologis Makin Kompleks, IAKN Ambon Dorong Kajian Komunikasi Lebih Kontekstual

Adventorial News

Ambon, CakraNEWS.ID — Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persoalan ekologis yang berlangsung secara bersamaan mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kajian yang mampu membaca kompleksitas kehidupan masyarakat.

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon melalui Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) merespons tantangan tersebut dengan menggelar Seminar Nasional bertema “Urgensi Kajian Komunikasi di Tengah Disrupsi Sosio-Ekologis”, Senin (28/9/2026).

Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakotta, M.Si., mengapresiasi pelaksanaan seminar tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam membaca berbagai perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Anakotta mengatakan, perkembangan sosial, teknologi, dan persoalan ekologis dewasa ini tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung secara bersamaan dan saling memengaruhi. Karena itu, dibutuhkan respons akademik yang tidak hanya melihat persoalan dari satu disiplin ilmu, tetapi mampu membangun perspektif yang lebih luas dan kontekstual.

Menurutnya, komunikasi memiliki posisi strategis dalam situasi tersebut karena menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman publik terhadap berbagai persoalan sosial maupun lingkungan.

“IAKN Ambon terus mendorong agar kegiatan akademik tidak berhenti pada ruang-ruang teoritis, tetapi juga mampu membaca realitas dan memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat,” kata Anakotta.

Ia menilai seminar nasional yang digagas FISK menjadi momentum untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, pengalaman praktis, serta berbagai perspektif dalam memahami perubahan sosial dan ekologis.

 

“Di tengah perubahan yang begitu cepat, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pengetahuan yang relevan, kritis, dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Anakotta berharap forum akademik tersebut dapat memperkuat budaya ilmiah di lingkungan kampus sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, pemerintah, praktisi, media, komunitas, dan masyarakat.

Dekan FISK IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella, M.Pd.K., mengatakan seminar nasional tersebut merupakan bagian dari upaya fakultas memperkuat relevansi kajian ilmu sosial keagamaan dengan berbagai persoalan aktual yang berkembang di masyarakat.

Warella menjelaskan, perubahan sosial dan ekologis tidak dapat dipisahkan dari cara manusia berkomunikasi, membangun relasi, memproduksi pengetahuan, serta mengambil keputusan.

Karena itu, kajian komunikasi perlu terus dikembangkan agar mampu memahami perubahan tersebut secara kritis sekaligus memberikan ruang bagi lahirnya pendekatan-pendekatan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“FISK memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan kajian ilmu sosial keagamaan yang kontekstual. Komunikasi menjadi salah satu ruang penting untuk memahami bagaimana masyarakat menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, sekaligus persoalan ekologis,” jelas Warella.

Menurut Warella, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Informasi dapat diproduksi dan disebarkan dalam waktu singkat, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan baru seperti misinformasi, disinformasi, polarisasi, serta rendahnya literasi masyarakat dalam memahami isu sosial dan lingkungan.

Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan perhatian akademik agar perkembangan komunikasi tidak hanya dipandang dari aspek teknologi, tetapi juga dikaji dari dimensi manusia, budaya, agama, sosial, dan lingkungan.

“Seminar ini diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif sehingga mahasiswa dan civitas akademika dapat melihat persoalan komunikasi secara lebih luas dan tidak terlepas dari konteks kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Warella berharap seminar tersebut dapat melahirkan gagasan akademik yang dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat maupun kerja sama lintas sektor.

Ketua Panitia Seminar Nasional, Muis Pikahulan, menjelaskan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh perubahan sosial dan ekologis yang berlangsung semakin cepat dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, politik hingga lingkungan.

Pikahulan mengatakan, perubahan iklim, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, bencana ekologis, urbanisasi, serta perkembangan teknologi digital menunjukkan bahwa persoalan sosial dan lingkungan merupakan isu yang saling berkaitan dan membutuhkan pendekatan komprehensif.

“Komunikasi memiliki posisi strategis dalam situasi tersebut. Komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga membentuk pengetahuan, persepsi, sikap, dan tindakan masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial maupun lingkungan,” jelas Pikahulan.

Ia mengatakan, cara masyarakat memahami krisis ekologis sangat dipengaruhi oleh bagaimana isu tersebut dikomunikasikan melalui keluarga, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, media massa, media sosial, pemerintah, komunitas, serta berbagai aktor sosial lainnya.

Perkembangan teknologi digital, lanjut Pikahulan, turut memperkuat kompleksitas persoalan tersebut. Di satu sisi, informasi terkait lingkungan dapat tersebar dengan cepat dan menjangkau masyarakat luas. Namun di sisi lain, kondisi itu juga memunculkan tantangan berupa misinformasi, disinformasi, polarisasi, manipulasi informasi hingga rendahnya literasi ekologis.

“Kondisi ini menuntut lahirnya kajian komunikasi yang mampu membaca hubungan antara teknologi, manusia, lingkungan, budaya, dan struktur sosial secara lebih kritis,” ujarnya.

Menurut Pikahulan, berbagai tantangan nyata seperti kesenjangan akses informasi, perbedaan persepsi terhadap risiko lingkungan hingga hambatan komunikasi lintas sektor dalam penanganan perubahan iklim masih membutuhkan pengembangan kajian yang lebih kontekstual.

Karena itu, seminar nasional tersebut diharapkan menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan untuk mempertegas arah pengembangan kajian komunikasi yang lebih responsif terhadap realitas disrupsi sosio-ekologis.

Pikahulan menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab akademik untuk menghasilkan kajian yang tidak hanya mampu menjelaskan berbagai persoalan sosial dan lingkungan, tetapi juga menawarkan alternatif solusi yang relevan bagi masyarakat.

Melalui seminar nasional ini, FISK IAKN Ambon berupaya mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah, praktisi, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun pemahaman bersama mengenai strategi komunikasi yang relevan dalam menghadapi perubahan sosial dan ekologis.

“Harapan kami, seminar ini dapat menjadi ruang akademik yang produktif untuk melahirkan gagasan, rekomendasi, dan kolaborasi yang memperkuat kontribusi ilmu komunikasi dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan yang terus berkembang,” tutup Pikahulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *