Kemarau Panjang, Tanaman Pala dan Cengkeh Warga Kian Darat Terancam Mati

Adventorial Berita Pilihan Lintas Nusantara Lintas peristiwa News Pemerintahan

BULA, CakraNEWS.ID – Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mulai berdampak serius terhadap tanaman perkebunan milik masyarakat di Kecamatan Kian Darat.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah lokasi perkebunan warga, termasuk di Desa Artafella. Tanaman pala dan cengkeh milik masyarakat tampak layu akibat minimnya curah hujan dan terbatasnya ketersediaan air.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (23/8/2026), sebagian tanaman bahkan dilaporkan telah mengering hingga menyebabkan pohonnya mati. Warga kini terpaksa mengambil air dari permukiman untuk dibawa ke lahan perkebunan dan digunakan menyiram tanaman.

Kondisi kekeringan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir membuat aktivitas petani semakin berat. Untuk menjaga tanaman tetap hidup, sebagian warga harus mendatangi kebun sejak pagi hari untuk melakukan penyiraman.

Salah seorang petani asal Kecamatan Kian Darat, Jafar Sukunwatan, mengatakan penyiraman tanaman telah dilakukan secara rutin selama kurang lebih tiga bulan akibat kondisi kemarau.

“Bukan hanya hari ini kami menyiram tanaman pala dan cengkeh. Ini sudah kurang lebih tiga bulan akibat kekeringan,” kata Jafar saat ditemui di lokasi perkebunannya, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, warga harus mengambil air dari kampung kemudian membawanya ke lahan perkebunan. Upaya tersebut dilakukan karena apabila tanaman tidak mendapatkan pasokan air, kondisi tanaman akan semakin mengering.

“Kalau dibiarkan, tanaman akan tetap kering, baik pohon pala maupun cengkeh,” ujarnya.

Jafar menyebutkan, kekeringan telah menyebabkan sejumlah tanaman milik warga mati. Bahkan, ratusan pohon pala dan cengkeh disebut tidak mampu bertahan karena keterbatasan air dan sulitnya proses penyiraman.

“Memang untuk saat ini ratusan pohon pala maupun cengkeh sudah mati karena kami kewalahan dalam penyiraman,” katanya.

Ia mengatakan dampak kekeringan tidak hanya terjadi di satu lokasi, tetapi juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah lain di Kabupaten SBT.

“Kami sangat kewalahan untuk melakukan penyiraman. Masyarakat harus bangun pagi dan pergi ke hutan untuk menyiram tanaman mereka. Ini sudah berjalan sejak kemarau pertama sampai saat ini,” ungkapnya.

Menurut Jafar, kondisi tersebut juga membuat sebagian masyarakat harus bermalam di sekitar kawasan perkebunan agar dapat melakukan penyiraman tanaman pada pagi hari.

Ia berharap pemerintah daerah melalui instansi teknis segera turun tangan memberikan bantuan dan solusi bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Sampai saat ini belum ada bantuan, baik air maupun solusi dari pemerintah dalam mengatasi persoalan yang terjadi bagi kami,” ujarnya.

Jafar berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap kondisi petani di Kecamatan Kian Darat, khususnya terkait ketersediaan air untuk menyelamatkan tanaman perkebunan masyarakat.

“Harapannya pemerintah daerah melalui dinas terkait bisa membantu kami dalam persoalan ini. Kalau kekeringan terus berlangsung, tanaman kami sudah dipastikan tidak dapat tumbuh subur,” katanya.

“Semoga pemerintah, baik daerah, provinsi maupun pusat, serta pihak lainnya bisa membantu kami mengatasi persoalan ini,” tutupnya.***CNI-01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *