Oleh: M. Azis Tunny | Ketua Pengprov ORADO Maluku
Ambon, CakraNEWS.ID– Domino kerap dipandang sederhana. Ia hadir sebagai permainan pengisi waktu luang, dimainkan di ruang-ruang informal, di sela perbincangan, dan dalam suasana santai. Kesannya ringan. Namun anggapan itu menutup fakta penting bahwa domino adalah permainan yang mengandalkan kecerdasan berpikir, ketepatan membaca situasi, serta disiplin dalam mengambil keputusan. Persepsi yang terlalu menyederhanakan domino membuat potensi besarnya luput dari perhatian.
Sebagai permainan rakyat, domino memiliki akar sejarah panjang. Jejaknya dapat ditelusuri hingga peradaban China kuno pada masa Dinasti Song sekitar abad ke-9 atau ke-10, sebelum menyebar ke berbagai wilayah dunia melalui perdagangan dan migrasi manusia. Sejak awal, domino tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga medium interaksi sosial yang mengasah logika, kesabaran, dan kemampuan membaca pola. Nilai-nilai inilah yang membuat domino bertahan lintas generasi dan budaya.
Perubahan signifikan terjadi ketika domino berkembang di Eropa. Permainan ini mulai ditata dalam sistem dan aturan yang lebih baku. Akibatnya, domino bertransformasi menjadi arena adu strategi yang menuntut kalkulasi peluang, pengambilan keputusan cepat, serta pengendalian emosi. Karakter ini menempatkan domino sejajar dengan cabang olahraga berbasis kecerdasan dan strategi seperti catur, bridge, dan e-sport.
Pengakuan global terhadap domino tercermin dari keberadaan federasi internasional seperti World Domino Federation (WDF), International Domino Federation (IDF), dan Federation Internationale de Domino (FIDO). Federasi-federasi ini mengatur regulasi pertandingan, standardisasi perangkat, hingga kalender kompetisi lintas negara. Di berbagai belahan dunia, domino bahkan telah diposisikan sebagai cabang olahraga kompetitif yang sah.
Sejumlah negara menjadikan domino bagian dari sistem olahraga nasional mereka. Di Amerika Latin dan Karibia seperti Republik Dominika, Kuba, Venezuela, Kolombia, dan Puerto Riko, domino dipertandingkan secara reguler dengan format liga dan kejuaraan nasional. Amerika Serikat serta negara-negara Eropa seperti Spanyol, Prancis, dan Italia mengembangkan domino melalui federasi resmi yang aktif. Sementara di Asia, China dan Filipina telah memasukkan domino ke dalam ekosistem olahraga permainan otak yang terstruktur.
Indonesia sejatinya memiliki tradisi dan modal sosial yang tidak kalah kuat. Domino hidup di tengah masyarakat, dari desa hingga kota, dari teras rumah hingga warung kopi. Ia menjadi ruang belajar kolektif tentang strategi, kerja sama, dan pengendalian diri. Namun hingga kini, domino belum sepenuhnya mendapatkan tempat sebagai olahraga prestasi. Stigma sebagai permainan rekreasi semata membuatnya tertinggal dalam sistem pembinaan dan kompetisi yang terukur.
Padahal, pembeda utama antara permainan biasa dan olahraga prestasi terletak pada sistem dan tata kelola. Olahraga membutuhkan aturan baku, perangkat pertandingan yang terlatih dan terstandarisasi, sistem kompetisi berjenjang, serta jalur pembinaan atlet yang berkelanjutan. Tanpa itu, potensi atlet tidak akan berkembang secara maksimal, dan prestasi sulit diwujudkan.
Kesadaran inilah yang melahirkan Federasi Olahraga Domino Nasional (ORADO), dideklarasikan di Jakarta pada 7 Januari 2026 dengan dukungan 38 Pengprov dan 309 Pengcab. Dukungan luas ini mencerminkan kebutuhan nyata komunitas domino akan organisasi nasional yang profesional, inklusif, dan berorientasi prestasi. ORADO hadir bukan sekadar simbolik, melainkan sebagai instrumen perubahan.
ORADO mengambil peran strategis dalam mentransformasikan domino menjadi olahraga nasional profesional, menyusun regulasi, membangun sistem pembinaan atlet, menstandarkan wasit, serta menyiapkan kompetisi berjenjang dari daerah hingga nasional. Menpora RI Erick Thohir saat deklarasi ORADO bahkan menegaskan bahwa domino memiliki potensi besar menjadi sport industry dan sport tourism yang mampu mendorong perputaran ekonomi.
Sebagai deklarator dan Ketua Pengprov ORADO Maluku, saya melihat langsung antusiasme daerah yang selama ini berjalan tanpa kepastian sistem. ORADO berupaya menjembatani kesenjangan itu dengan kerja konsolidasi nyata, membangun struktur hingga ke akar rumput, dan menempatkan atlet sebagai pusat kebijakan organisasi.
Pada akhirnya, transformasi domino menjadi olahraga prestasi bukan semata soal kejuaraan atau medali. Ini adalah soal legitimasi dan pengakuan bahwa kecerdasan, strategi, dan ketenangan berpikir merupakan bagian sah dari olahraga modern. Indonesia tidak kekurangan tradisi dan pemain, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk menata, dan mengakui domino sebagai cabang olahraga prestasi.* (AT)
