Kebersihan Lingkungan: Antara Tertib Aturan dan Panggilan Iman di Bumi Saka Mese Nusa

Opini
  • Oleh: Abdul Raqib Ibrahim | Sekretaris Tanfidziah PCNU Kabupaten Seram Bagian Barat

Piru, CakraNEWS.ID– Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) adalah tanah yang diberkati, sebuah bentang alam yang kita sebut sebagai Saka Mese Nusa.

Di atas tanah ini, kita tidak hanya membangun gedung dan jalan, tetapi juga membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai luhur dan spiritualitas. Akhir-akhir ini, sebuah diskusi hangat menyeruak ke ruang publik mengenai sinergi antara OPD dan TP PKK dalam agenda kebersihan lingkungan.

Sebagai bagian dari keluarga besar SBB, saya memandang perlu bagi kita semua untuk melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih teduh: antara ketaatan pada aturan dan ketulusan memenuhi panggilan iman.

Dalam keyakinan kami, An-nadhafatu minal iman—kebersihan adalah sebagian dari iman—bukanlah sekadar slogan di papan bicara. Ia adalah ruh yang seharusnya menjiwai setiap gerak pembangunan. Ketika Pemerintah Daerah melalui OPD bergandengan tangan dengan Tim Penggerak PKK untuk turun ke jalan membersihkan lingkungan, sejatinya mereka sedang menjalankan ibadah sosial.

PKK adalah mitra strategis pemerintah yang menyentuh hingga ke unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Maka, keterlibatan mereka bukanlah sebuah anomali birokrasi, melainkan wujud nyata dari kolaborasi yang memanusiakan. Jika seorang Ibu (melalui PKK) hadir memberikan arahan untuk merawat keasrian bumi kita, bukankah itu adalah panggilan naluri seorang ibu yang ingin memastikan rumahnya bersih bagi anak-cucunya?

Kita tentu sangat menghargai fungsi pengawasan yang dijalankan oleh saudara-saudara kita di legislatif (DPRD). Tertib aturan adalah pagar agar roda pemerintahan tetap berjalan pada relnya. Namun, kita juga harus bijak melihat bahwa aturan ada untuk melayani kepentingan manusia, bukan sebaliknya.

Dalam kaidah fiqh, kita mengenal prinsip Ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu—apa yang tidak bisa dilakukan sempurna seluruhnya (secara administratif), jangan ditinggalkan semuanya (secara substansi). Jika ada perdebatan mengenai protokoler atau prosedur, biarlah itu diselesaikan dalam ruang dialog yang elegan dan penuh martabat. Namun, jangan sampai perdebatan itu mematikan semangat gotong royong yang sedang tumbuh. SBB membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar adu argumen yang tak berujung.

Saya mengajak kita semua untuk meletakkan “Hati” di atas “Instruksi”. SBB tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan surat keputusan, tapi dengan keringat yang menetes dari tangan-tangan yang bekerja sama. Mari kita dukung setiap upaya kebaikan dengan sikap husnudzon (berprasangka baik)

Kebersihan lingkungan kita adalah cermin dari kebersihan hati kita. Jika hati kita bersih, maka perbedaan cara pandang akan kita lihat sebagai rahmat, bukan sebagai bibit perpecahan. Mari kita jaga Bumi Saka Mese Nusa ini dengan penuh cinta, agar kelak sejarah mencatat bahwa di masa kita, aturan dan iman berjalan beriringan demi kemaslahatan rakyat.

Semoga Allah SWT merahmati setiap langkah kita dalam menjaga kesucian dan keindahan daerah yang kita cintai ini.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *