Saiful Rumain: Relawan Kesehatan dan Pendamping Dana Desa di Pedalaman Pulau Seram

Kesehatan

Penulis : Baim Abdullah Rumadaul

“Untuk urusan dibangun pada malam hari itu adalah hal yang biasa bagi saya, walaupun ada bidan dan perawat tapi mereka tetap mencari saya dan kadang saya berjalan mencari pasien, dan hal yang dilakukan masyarakat itu kembali pada proses kenyamanan, saat saya dengar kondisi masyarakat yang sakit langsung saya kesana karena hitungan saya begini mungkin dia tidak ke Puskesmas itu karena persoalan finansial mereka yang minim bahkan tidak ada sama sekali,” Saiful Relawan Kesehatan dan Pendamping Desa di Pedalaman Pulau Seram.

Bula, Seram Bagian Timur –  Tinggal di pelosok negeri, mengabaikan gemerlap kehidupan kota, para pencerah Pertiwi Nusantara. Kita boleh memilih pekerjaan yang dilakoni, tentu setiap orang mengidamkan pekerjaan yang dilingkupi kenyamanan aman dari panas dan hujan jika perlu tersedia AC di ruangan, mudah diakses tempatnya dan berada di gedung. Dan akses transportasi merupakan salah satu kebutuhan yang saat ini menjadi prioritas utama.

Tetapi sekali seumur hidup, bolehlah kita merasakan bekerja di medan yang sulit dan menantang seperti yang dialami oleh Saiful Rumain, A.Md Kep (29). dirinya memutuskan kuliah dibidang keperawatan agar bisa merawat warga dikampungnya dan sampai saat ini Saiful menjadi tranding topik di Kecamatannya yakni Siritaun Wida Timur.

Selain itu Saiful, memiliki segudang cerita inspiratif saat di percayakan sebagai pendamping dana desa melalui rekrutmen pemerintah pada tahun 2015 lalu. Hal yang di berikan kepadanya tidak sama sekali dibayangkan sebelumnya karena kesehariannya hanya sebagai Relawan Kesehatan di negerinya, dan hal yang diberikan kepadanya sebagai pendamping dana desa ternyata punya cerita dan pengalaman yang berkesan ketika memulai tugas menjadi pedamping kala dana desa dikucurkan di kampung halaman yang ia di besarkan.

“Ada beberapa negeri yang tak berkenan menerima kehadiran pendamping desa. Mereka beranggapan seakan-akan membatasi ruang geraknya, padahal tidak,”ujar Saiful, menceritakan kisahnya ketika memulai pekerjaan sebagai pendamping desa saat Tim Rekrutmen Desa berkunjung ke Kecamatan Siritaun Wida Timur pada 2015 lalu.

Saiful, Sebelumnya saya tidak pernah berfikir akan bekerja pada bidang pemberdayaan masyarakat. Namun nasib membawa saya ke sini, sehingga sayapun harus memulainya dari awal lagi. Sempat bingung untuk memulai langkah pekerjaan, harus bagaimana dan kemana. Pembekalan yang saya dapatkan selama satu minggu serasa belum cukup. Namun karena saya sudah terlanjur terjun, saya harus belajar lagi.

Disamping menjalankan tugas sebagai Pendampin Desa betapa sulitnya membuka wawasan pola pikir masyarakat terhadap pelaksanaan dana desa butuh banyak eferensi dan butuh tenaga yang luar biasa sekalipun dirinya berjalan kaki dengan jarak tempuh yang begitu jauh dari desa ke desa dan merasa sulit tapi itulah tugas yang di bebankan oleh negara terhadap Saiful sebagai pendamping.

“Negara sangat mengharapkan kita sebagai pendamping itu adalah ujung tombak untuk sebuah desa adalah dilakukan oleh seorang pendamping profesionaldi desa,” ungkap Saiful.

Selain itu, Pemuda kelahiran Nama 17 Juni 1990 ini juga dalam proses menjalankan tugasnya sebagai pendamping desa dirinya juga tidak terlepas dari proses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di negeri yang pernah ia di lahirkan dan di bersarkan disana.

“Saya berfikir bahwa kesehatan ini merupakan sebuah hal yang terpenting dalam proses pembangunan desa. Untuk itu, dua dimensi ini berjalan sesuai dengan apa yang saya miliki saat ini, yakni saya sebagai pendamping desa dan berprofesi sebagai tenaga kesehatan,” cetus pemuda inspirasi di Kecamatan Siritaun itu.

Kedua pekerjaan mulia yang dilakukan Saiful tersebut sangalah sulit di temukan di daerah setempat sebuah kerja mulia yang dilakukan Saiful tersebut sangat melelahkan baik dari sisi kesulitan dan hal lainya yang pernah di temuinya. Sosok pemuda yang sederhana ini juga berani sehingga dirinya mampu menguba pola piker masyarakat setempat untuk sama-sama berpartisipasi membangun sebuah desa yang sangat diharapkan oleh pemerintah saat ini.

“Apa yang pernah saya lakukan ini hanya tujuanya agar desa itu maju mandiri berkembang dan itu sangat membutuhkan tenaga yang luar biasa, dan saya tidak pernah memandang itu singa memandang itu malam asalkan masyarakat sehat dan negeri ini bisa sejahtera seperti negeri yang lain yang ada di Nusantara ini,” ujar Saiful dengan nada semangat.

Menurut pria lulusan Politeknik Kesehatan Maluku, Prodi Keperawatan Masohi pada 11 November 2011 Saiful jika sebuah desa menjadi mandiri dan maju tatkala kesehatanya terganggu itu juga sangat berpengaruh sehingga membuat rasa syukur Saiful sebagai seorang tenaga kesehatan sekaligus menjalankan tugas sebagai seorang pendamping desa agar warga masyarakat tersebut sehata dan bersama-sama untuk membangun desa itu jauh lebih bagus dan mandiri.

Saiful dalam menjalankan tugasnya yang di tuangkan di dalam surat perintah tugas tersebut yakni ada Desa Salagur Kota, Desa  Ketta Rumadan, Desa Ketta dan Desa Liantasik di Kecamatan Siritaun Wida Timur Kabupaten Seram Bagian Timur. Saiful dalam menjalankan aktivitas keseharaianya memberikan motivasi kepada masyarakat setempat setiap saat mulai dari pagi sampai pada sore hari. Hal tersebut dilakukan Saiful semata-mata untuk masyarakat, aparat desa dan unsur BPNA memahami terhadap program yang sudah di tuangkan pemerintah dalam program dana desa. Bahkan hal yang memang sulit ditemukan di masyarakat dirinya mampu menyelesaikan persoalan yang pernah terjadi di tengah-tengah masyarakat.

“Apa yang menjadi keinginan saya adalah terutama mengubah pola pikir masyarakat, untuk mengelola dana desa ini seperti apa karena banyak regulasi dan aturan mainya aturan ini dilimpahkan kepada kami sebagai pendamping untuk menyalurkan kepada setiap desa yang kami di berikan tugas di berbagai pelosok desa,” tutur  pria Peraih Anugerah Menteri Kesehatan pada HKN 2018 tersebut.

Muka-muka lelah memadati kota-kota besar yang ada di Indonesia. Terjebak rutin dan tagihan yang menunggu untuk dibayarkan di akhir, awal, maupun tengah bulan. Tuntutan hidup modern membuat sekian banyak orang jadi money oriented. Sampai lupa betapa menyenangkannya jadi sukarelawan. Yang dilakukan Saiful di kampung halamannya.

Dari sekian banyak, ternyata masih ada orang yang meluangkan waktu untuk ‘menoleh kanan-kiri’, membantu mereka yang membutuhkan. Mereka yang di tengah lelah tetap berdedikasi untuk berbagi. Tak hanya uang, namun juga curahan perhatian dan tenaga, juga motivasi yang menjadi hal utama untuk masyarakat.

“Yang menjadi sebuah fenomena yang terus menginspirasi saya adalah ketika berhasil menyatukan pikiran masyaerakat ada gesekan di tengah-tengah masyarakat tetapi Alhamdulillah dengan niat yang tulus nawait yang baik pada akhirnya semua itu di selesaikan dengan baik,” kesan Pria kelahiran Desa Nama 17 Juni 1990 itu.

Pengabdian Menjadi Relawan Kesehatan

Setelah diwisuda pada 11 November 2011 di Politeknik Kesehatan Maluku, Prodi Keperawatan Masohi Saiful bergegas pulang kampung untuk menunaikan janjinya; mengabdikan diri bagi masyarakat dikampung halamannya, Kecamatan Siritaun Wida Timur, yang masih terisolasi. Tawaran bekerja pada rumah sakit di ibu kota kabupaten ia tolak demi masyarakatnya yang ada di kampong halamanya.

Diketahui, awal perjalanannya sebagai relawan masyarakat pada tahun 2012 melalui sumpah jabatan profesi yang dikokohkan sebagai seorang tenaga kesehatan masyarakat. Bukan saja di kampung halamanya saja tempat pengabdiannya, Saiful juga melakukan tugasnya ke beberapa desa terpencil di Kaupaten Seram Bagian Timur yang luar dari jangkauan transportasi dan sulitnya jangkauan transportasi dan akses informasi pada saat itu.

“Untuk pengabdian saya di bidang kesehatan itu di Siwalalat pernah, saya pernah di Dihil, Polin, Tunsai, Liliama, Nayat, Elnusa, Sabuai, Abuletta saya pernah disitu bahkan saya di Funa Nayaba juga,” ungkap rekam jejak sosok inspiratif jebolan DIII Prodi Keperawatan Masohi tersebut.

Lanjut Saiful “Untuk di pelosok dataran Kecamatan Kilmury itu mulai dari beberapa kampung yang memang aksesnya sangat menyayangkan diantaranya Mising, Selor, Liku Ratu, Afang, Kumelang, Taa, Woluk, Undur, Manggis, dan di Urung juga pernah sampai di Pulau Kefing juga pernah saya melakukan kunjungan untuk melihat kesehatan masyarakat disana,”  sebut Saiful menjelaskan beberapa Pelosok Kampung yang pernah ditemui dalam jejak perjalanan profesinya.

Sementara di Kecamatannya Siritaun Wida Timur negeri dimana Saiful di besarkan Sauful menjalankan proses pelayanan kesehatan masyarakat mulai dari Airnanang sampai di perbatasan Kecamatan siritaun wida Timur di Gaur. Selain itu, Saiful juga melakukan pelayanan kesehatan juga di Kecamatan Kiandarat mulai dari Desa Kian, Artafella. Dan melakukan tensi juga kepada masyarakat Angar, Kelaba bahkan sampai di Rumfakar juga dirinya melakukan pengobatan bagi masyarakat setempat.

Kisah yang paling menakjubkan adalah saat kesembuhan seorang pasien yang sudah lama menderita penyakitnya akhirnya di sembuh juga oleh Saiful. Hal itu terjadi di Desa Danama Kecamatan Tutuk Tolu dimana di desa tersebut ada salah satu pasien yang berkeliling di Papua, Tenggara, Ambon dan Masohi hanya tujuanya untuk kesembuhan penyakitnya saat bertemu dengan Saiful kondisi pasien yang saat itu dianggap parah dan keinginan untuk menjadi sehat akhirnya tercapai saat dirinya bertemu dengan Saiful saat memeriksa kondisinya dan melakukan proses pelayanan.

“Dari beberapa daerah yang saya tempuh yang menjadi kendala itu di beberapa tempat seperti di Siwalalat dimana kendalanya hanya di obat saja, karena kondisi pasien membutuhkan obat itu tidak ada di saya itu yang menjadi kendala, bagaimana saya melakukan pelayanan kesehatan tetapi obat yang berhubungan dengan pasien tida ada, untuk pemeriksaan saya tetap dengan pemeriksaan tradisional terus saya melakukan solusi untuk gunakan obat-obat tradisional” ujar Saiful saat melakukan pelayanan kesehatan di Kecamatan Siwalalat.

Jika hidup adalah pilihan, maka apapun yang dipilih itulah yang akan didapatkan. Sebuah pilihan yang sangat mulia dipilih Saiful ini. Dirinya lebih memilih untuk mengabdikan diri sebagai relawan kesehatan di kampug halamanya di tengah beberapa tawaran pekerjaan lain yang menghampirinya akan tetapi dengan semangat dirinya tulus mengabdi kepada masyarakat.

Sepak terjang Saiful dalam masyarakat memang sangat fenomenal, dirinya tak mengenal tempat dan waktu. Selagi masih sehat dan adea waktu Saiful selalu siap membantu sekalipun itu di tengah laut maupun pada malam hari dimana dirinya beristirahat.

Saiful juga memiliki segudang cerita saat dirinya di Kecamatan Kilmury dimana negeri yang terbilang kurangnya tenaga medis dan transportasi yans sulit masih sempat Saiful melakukang pelayanan kesehatan di Bumi berjuluk Negeri Sia itu, Ia melakukan semuanya hanya karena cita-cita yang ditanamkan sejah kecil bahwa jika di suatu saat dirinya pasti membantu masyarakat yang lemah walau di bayar dengan ucapan terima kasih.

“Saya perna melakukan proses pelayanan di sana, pada saat selesai proses pelayanan salah satu pasien yang umurnya sudah lansia, saya duduk sejenak setelah pemeriksaan lalu saya dengar di dalam kamar itu ada bunyi ketukan padahal di dalam kamar belia sedang menghitung uang recehan (gobang) untuk membayarkan pengobatanya, lalu saya menghampiri beliau lalu saya katakana jangan pikirkan harga obatnya tapi pikirkan saat ini adalah bagaimana sehat dulu,” jelas pria perawakan Kecamatan Siritaun Wida Timur dengan mata yang berbinar-binar.

Pada saat di Kilmury Saiful juga pernah melakukan pengobatan dan 126 jarum tanpa bayar itulah membuat jiwanya selalu besar dan tulus dan pernah di bayar jarum suntiknya dengan harga seribu rupiah, dan juga pernah dikasih tikar.

Dari apa yang Saiful lakukan kepada negeri ini sehingga Saiful juga merupakan salah satu perawat yang masuk dalam 5 Sosok Inspiratif Peraih Anugerah Menteri Kesehatan Tahun 2018 pada Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang diberikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, SpM(K), lima sosok inspiratif dalam pembangunan kesehatan, diantaranya Abie Wiwoho Hantoro dari Bekasi, Dudi Krisnadi dari Blora, Bidan Eros Rosita dari Lebak, Maria Magdalena Endang Sri Lestari dari Semarang dan salah satunya adalah putra terbaik Maluku asal Kabupaten Seram Bagian Timur yakni Saiful Rumain yang berprofesi perawat, sejak kecil lahir dengan kehidupan yang sederhana dirinya yang lahir di pedalaman Seram Bagian Timur Provinsi Maluku. Hal ini membuatnya memahami masyarakat yang sangat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan.

Hal ini pula yang membuatnya memiliki tekad kuat untuk menjadi tenaga kesehatan dan terus mengabdikan diri di tanah kelahirannya di saat rekan sejawatnya tidak berminat ditempatkan di kampung halamannya yang terpencil. Anugerah Menteri Kesehatan merupakan sebuah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada sosok bagi individu dan instansi yang memiliki inovasi, konsistensi dan daya juang dalam pembangunan kesehatan salah satunya adalah Saiful yang terlihat sederhana dengan jiwa sosialnya yang luar biasa.

Bukan ¬saja hal itu yang dilakukan Saiful ada beberapa item program yang dilakukan Saiful di kampung halamannya demi memberikan pemahaman bagi masyarakat karena hakikat dasarnya tujuan pemerintah adalah desa  harus mandiri berdiri kokoh guna majunya sebuah negeri.

Saiful saat ditemui media ini pada Kamis, 21 November 2019, ia sedang melakukan kunjungan dalam melayani warga di Desa Liantasik dan Ketta serta memberikan pemahaman ddan motivasi untuk mengelola dana desa di beberapa desa yang ada di Kecamatan Siritaun Wida Timur. Pada saat telusuran media ini di Desa Ketta ada seorang pemuda yang kakinya mengalami luka akibat terkena alat tajam (parang) pada hari itu sebenarnya Saiful sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Kota Bula akan tetapi perjalananya tertunda sejenak akibat ia dipanggil untuk melakukan pengobatan. Lebih menakjubkan lagi dan menjadi insprasi terbesar adalah luka jahitan yang dimiliki pemuda tersebut sebanyak 18 jahitan satu persen pun yang di berikan kepadanya. Awalnya di berikan kepadanya akan tetapi dengan jiwa yang sederhana itu menolak segala pemberian masyarakat menurutnya semua yang diberikan pasti ada jalan dari Tuhan.

Persalinan di Perahu

Saiful mulai mengabdi pada Januari 2012. Bermodal tabungan serta hasil penjualan pala dan cengkeh ia membeli obat dan jarum suntik. Ia tidak mematok harga kepada pasien. Bahkan, ada pasien yang hanya membayar Rp.1000 padahal warga itu mendapat satu kali suntikan. Bayaran itu sangat murah dibandingkan dengan tarif layanan kesehatan disana berkisar Rp.30.000.

Bagaimanapun Saiful yang lahir dari ekonomi keluarga ekonomi lemah itu masih membutuhkan uang. Secara ekonomi, ia tidak sekelas dokter Lie Dharmawan yang keliling Indonesia memberikan pelayanan ksesehatan gratis lewat Kapal Rumah Sakit Apung dr Lie Dharmawan. Ia juga bukan jutawan yang mendonasikan hartanya bagi orang miskin.

Kendati serba terbatas, Saiful mengedepankan kemanusiaan. Ia kerap menolak uang jasa layanan kesehatan yang dibayarkan oleh pasien keluarga miskin. Sebagai ucapan terimakasih, mereka lalu memberinya hasil kebun berupa lempengan sagu, kelapa, dan ubi.

“Mereka cari makan saja susah. Dari mana mereka dapatkan uang? Yang paling penting mereka sembuh dulu” ujar Saiful menjelaskan sikapnya.

Pelayanan Saiful bukan hanya di Kecamatan Saritaun Wida Timur dengan penduduk sekitar 13.000 jiwa itu. Pada 2014 setelah mendengar banyak warga Kecamatan Kalimury terserang penyakit, ia nekat kesana dengan menumpang parahu motor selama 8 jam. Kilmury juga kecamatan terisolasi di kabupaten itu.

Sejak dua tahun yang lalu masalah keterisolasian di kecamatan berpenduduk sekitar 4500 jiwa itu mencuat ke public. Sempat muncul gerakan menyelamatkan Kalimury bertajuk save kalimury lewat sejumlah aksi termasuk di Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku.

Selama 14 hari Saiful mengobati warga di Kalimury secara sukarela. Meski demikian ada warga berpenghasilan cukup memberinya lebih dari standar harga. Tiga hari pertama obat yang dibawa habis. Ia lalu meminta tolong warga untuk membeli obat di Pulau Geser yang dijangkau dalam waktu sekitar 2,5 jam perjalanan. Penyakit paling dominan adalah infeksi saluran pernafasan akut, hipertensi, diare, malaria, hingga gizi buruk.

Sebagai satu-satunya tenaga medis, Saiful juga berperan sebagai bidan untuk membantu persalinan. Sejak 2012 ia sudah menolong 8 ibu untuk melahirkan normal. Proses persalinan lancar, ibu dan anaknya selamat. Hanya seorang ibu dan janinnya tidak selamat karena terlambat menangani lantaran laporan yang masuk di Saiful juga terlambat.

Ia menuturkan pengalaman paling mengesankan saat mendampingi ibu hamil dari Ketta ke puskesmas Pulau Geser. Dalam perjalanan, perahu dihadang gelombang tinggi sehingga harus menepi di Pulau Keffing. Ibu tersebut melahirkan didalam perahu. “Guncangan perahu sangat dipukul ombak sedikit membantu proses persalinan” ujarnya sambil tertawa.

Saiful juga pernah di datangi salah satu orang tua yang sudah lansia dan membawakan kartu BPJS hal ini membuat dirinya saat itu meneteskan air mata bahkan membuatnya terus bersemangat untuk mengabdi kepada Negara.

Selain itu, yang menjadi motivasi bagi Saiful untuk terus membangun desa menurut Saiful  adalah yang pertama sebagai seorang pendamping desa adalah sudah tentu diberikan tunjangan oleh Negara, operasional, dan di lain sisi salah satu hal mengubah pola pikir masyarakat yang dari buruk menjadi baik sekaligus mengubah wajah desa menjadi lebih bagus dipandang oleh semua orang adalah sebuah pekerjaan yang muliadan ini adalah sebuah pekerjaan yang di harapkan oleh seluruh warga Indonesia ini.

“Kalau bukan mengubah di saat ini kapan mau mengubah. Kalau bukan saat ini mengubah pola pikir masyarakat  untuk harus hidup sejahtera kapan kita mau mengubah. Alhamdulillah saya bersyukur dengan adanya program pemerintah dalam hal ini dana desa ini secara tidak langsung sudah mengubah wajah-wajah desa dengan rumah yang tadinya tidak layak akhirnya menjadi layak itulah kebanggaan saya untuk menjadi bagian dari pendamping desa,” ucap Saiful.

Berjuang untuk hidup

Setelah menikah dengan Nadia Rumain (27) tahun 2015 di anugerahi anak Ramadhan Rumain yang kini berusia 6 bulan. Saiful masih sering meninggalkan rumah berhari-hari demi melayani warga dipedalaman. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keluarga Saiful bergantung pada hasil kebun, pemberian dari pasien untuk Saiful dan honor dari tempat Nadia mengajar.

Dari kampung ke kampung, Saiful biasanya menumpang ojek atau perahu motor. Namun jika uang transport tidak cukup, ia memilih berjalan kaki atau menumpang mobil truck yang kebetulan melintas. Ia berkeinginan memiliki satu motor trail agar bisa menembus lebih jauh lagi wilayah pedalaman yang belum ditangani.

Saiful Rumain, A.Md Kep Kelahiran Nama 17 Juni 1990, Sekolah di SD Negeri 1 Kianlaut Lulus pada tahun 2002, SLTP 4 Seram Timur Sekaramg SMP Negeri 11 Seram Bagian Timur Lulus tahun 2005, SMA Negeri 1 Geser Lulus tahun 2008. Sementara perguruan tingginya di Prodi Keperawatan Masohi Lulus 2011.

Menjadi Tenaga Relawan Kesehatan Masyarakat  sejak tahun 2012 sampai sekarang, Sebagai Rekrutmen Pendamping Desa 2015.

Istri                              : Nadia Rumain (27)

Anak                            : Ramadhan Rumain (6 bulan)

Pendidikan Terakhir    : Diploma III Keperawatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *