Rumah Warga Piru Nyaris Hanyut Terbawa Air Sungai, BPBD Kabupaten SBB Berdiam Diri

Pemerintahan

Piru,CakraNEWS.ID- Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian  Barat (SBB), mengakibatkan debit air di beberapa sungai, diataranya, sungani Amarale, sungai Waisisi dan sungai Lalueng meluap.

Derasnya air ke-3 sungai tersebut, mengakibatkan bronjoong baju yang di pasangan di bantaran sungani-sungai tersebut, hanyut terbawa arus sungai hingga mengakibatkan sejumlah rumah warga yang ada di pinggiran sungai ambruk dan nyaris terbawa arus sungai.

Yan Hendrik Putuely, salah seorang warga yang rumahnya ambruk dan nyarris terbawa arus sungai, saat ditemui wartawan, Jumat (16/7/2021) menuturkan, awalnya sungai waisisi ini tidak ada masalah pada saat banyir sebelum normalisasi.

Namun setelah pada tahun 2020  sunggai ini normalisasi oleh salah satu kontraktor, dan setelah selesai normalisasi tidak ada pekerjaan selanjutan seperti pembuatan talut atau pemasangan brinjong pinggiran sunggai,

“Setelah tahun 2021 ini ada pemasangan bronjong oleh kontraktor, namun pemasangan bronjong tersebut tidak selesai sampai ke belakang rumah saya. Saya pun tidak tau secara pasti apa kendala yang dihadapi sehingga pemasangan brojong baju tidak tuntas di selesaikan,”beber Putuely.

Putuely menuturkan, akibat derasnya air sungai Waisis, bronjong berisi batu yang ada di pesisir sungani hanyut terbawa mengakibatkan, tanah longsor hingga mengenai rumah keluargnya.

“ Hujan deras yang turun dari hari Selasa 13 Juli 2021, mengakibatkan banjir deras  hingga tanah longsong sekitar rumah saya. Dapur rumah saya pun terkena longsor akibat banjir. Masalah longsor rumah saya, sampai saat ini tidak satu pun pejabat dari Kabupaten yang datang liat. Hanya yang baru lihat keberadaaan rumah saya yang longsor dari Pejabat Kepala Desa Piru,”ujar Putuely.

Putuely mengakui, dirinya pernah di panggil ke kantor Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten SBB, oleh  salah seorang kepala seksi, untuk mempertanyakan kondisi rumahnya. Namun hasilnya malah mengecewakan dirinya. Pasalnya dari pihak BPBD Kabupaten SBB, sama sekali tidak memperdulikan musibah tanah longsor yang mengakibatkan rumah kediamannya rusak parah.

“Pada saat saya di panggil ke kantor BPBD Kabupaten SBB, salah satu kepala seksi mengatakan nanti saya cari rumah untuk tempat tinggal. Nanti air kikis tanah ini dolo sampai rumah rubuh baru di anggarkan masuk dalam bencana. Entah saya mau ke mana, barang barang saya sudah di keluakan semuannya di luar, pokoknya saya tidak bisa tinggal di rumah lagi karena kalau tinggal saya rasa terganggu,”ungkap Putuely. (CNI-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *